Tampilkan postingan dengan label All About Soekarno. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label All About Soekarno. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 14 April 2012

Persetan Dengan Eisenhower

Persetan Dengan Eisenhower
Dalam beberapa tahun terakhir Amerika semakin arogansi menunjukkan jati diri sebagai “Negara besar.” Dan yang lebih mengiris perasaan adalah sikap Negara kecil atau Negara ke 3 atau apapun istilahnya seakan-akan mengamini sikap arogansi Amerika.
Saat Obama terpilih sebagai orang nomer satu di Gedung Putih semua media masa sibuk meliputnya, bahkan mungkin lebih sibuk dibanding meliput bencana yang ada dinegeri masing-masing.
Pertanyaannya adalah : Bagaimana Soekarno dari Indonesia menghadapi arogansi Amerika? Sekelumit tulisan ini dapat kiranya menjadi sebuah gambaran bagi kita.
Sikap Bung Karno yang tegas dalam politik luar negeri, membuat Amerika Serikat tidak nyaman. Karena itu pula, dalam sejarah perjalanan bangsa di bawah kepemimpinan Bung Karno, hubungan Indonesia dan Amerika Serikat bisa dibilang tidak mesra. Pada dasarnya, Bung Karno sendiri anti kapitalisme-liberalisme, tapi dia juga bukan seorang komunis. Sukarno hanyalah seorang nasionalis, bahkan ultra nasionalis.
Dalam hubungan dishamonis antara Indonesia – Amerika Serika, tergambar dalam ketegangan hubungan antara Presiden Sukarno dan Presiden Dwight D. Eisenhower. Suatu hari di tahun 1960, Bung Karno diundang ke Washington. Tapi apa yang terjadi? Sesampai di Washington, Eisenhower tidak menyambutnya di lapangan terbang. Bung Karno cuma membatin, “Baiklah.” Bahkan ketika sampai di Gedung Putih, Eisenhower pun tidak menampakkan batang hidungnya. Untuk itu pun, Bung Karno masih membatin, “Baiklah.”
Akan tetapi, ketika Eisenhower membuat Bung Karno menunggu di luar, di ruang tunggu, menanti yang tak pasti, hati Bung Karno terbakar… “Keterlaluan,” gumam Bung Karno, geram. Tapi toh Bung Karno, sebagai tamu negar, dia masih bisa bersabar. Ketika satu jam hampir berlalu, habis sudah kesabaran Bung Karno. Ia segera menghampiri kepala protokol dan berkata tajam, “Apakah saya harus meunggu lebih lama lagi? Oleh karena, kalau harus begitu, saya akan berangkat sekarang juga!”

Jumat, 13 April 2012

Adakah Rasa Takut Dihatimu?

Soekarno: Adakah Rasa Takut di Hatimu?
Takut. Takut merupakan suatu perasaan yang tumbuh secara alami dalam diri manusia. Dengan sifat alaminya maka rasa takut pada diri manusia yangs satu akan berbeda dengan manusia yang lainnya.
Rasa takut seorang pejabat adalah kehilangan jabatannya. Rasa takut seorang kaya adalah jatuh miskin dan masih banyak lagi rasa takut yang lain yang akan hadir pada diri manusia. Sekali lagi semua manusia tak terkecuali Pemimpin Besar Revolusi, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Panglima Tertinggi ABRI Bung Karno.
Anda tahu apa yang paling ditakutkan Bung Karno dalam hidupnya? Bukan jeruji besi. Bukan intimidasi Belanda. Bukan pembuangan. Bukan pula percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Hanya satu ketakutan Bung Karno, takut dibenci anak. Hingga ajal menjemput, ketakutan itu memang tidak pernah terjadi. Ia begitu disayang putra-putrinya.
Ketakutan dibenci anak, menghinggapi relung sanubari Bung Karno, saat anak-anaknya (terutama dari Fatmawati) beranjak remaja menjelang dewasa. Saat nalar dan naluri berkembang, mereka mulai memiliki kemampuan untuk berpendapat. Saat benak dan otaknya berkembang, mereka mulai berani mengemukakan pendapat.
Ada banyak kejadian, putra-putri Bung Karno menampakkan ketidaksukaannya di saat Bung Karno menghabiskan hari Jumat hingga Senin di Istana Bogor, bersama Ibu Hartini dan dua putranya (Taufan dan Bayu). Sikap-sikap berontak itu disampaikan dengan cara yang berbeda, antara Guntur, Mega, Rachma, Sukma, dan Guruh.
Bung Karno bukannya tidak tahu. Dia paham betul. Sekalipun begitu, Bung Karno menyikapi dengan sangat hati-hati. Tidak pernah sekalipun Bung Karno marah atas sikap putra-putrinya yang mulai kritis. Bung Karno tidak pernah mengambil sikap keras apa pun manakala mereka mulai berunjuk rasa.
Terhadap putra-putrinya yang “berontak”, Bung Karno menyikapi dengan lembut, akrab, dan memendam emosi. Bahkan, tanpa sepengetahuan putra-putrinya, Bung Karno sering memanggil para pengasuh mereka. Nah, kepada para pengasuh itulah Bung Karno “curhat”. Penutup curhat tentang kelakuan putra-putrinya adalah sebuah pesan bernada titipan, “Tolong jaga dan beri pengertian anak-anak. Jangan sampai mereka membenci saya.”
Bagi Bung Karno, anak adalah hal utama. Sering terjadi kisah menarik, manakala untuk mengistimewakan anak, terpaksa istri muda harus mengalah. Satu contoh adalah pada saat Bung Karno menggelar wayang kulit di Istana. Protokol sudah mengatur tempat duduk sedemikian rupa. Ketika itu, Bung Karno baru saja memperistri Harjatie, mantan pegawai Setneg yang pandai menari.
Nah, Harjatie sempat tersinggung dan marah kepada Bung Karno, karena disuruh duduk di bangku deretan kedua. Sementara ada satu kursi kosong di sebelah kiri Bung Karno di deret terdepan. Kursi itu dibiarkan kosong sampai akhirnya datang Megawati dan langsung duduk di kursi kosong di samping kiri bapaknya. Ya, Bung Karno lebih mengutamakan putrinya daripada istri mudanya. Karena apa? Ia tidak takut dibenci istri muda, tetapi sangat takut dibenci anak.
Itulah Bung Karno, sosok yang dikenal piawai dalam menarik hati wanita ternyata masih menempatkan perasaan putera dan puterinya diatas segalanya, bahkan sampai pada batas menimbulkan rasa takut.